Sujud syukur bahwasanya 14 Oktober 2026 di balairung UPGRIS, aku merasakan haru bercampur dengan degup jantung yang sangat bergemuruh. Air mata yang sedari hari sebelumnya mengalir deras, rela aku tahan karena sayang aja dengan makeup yang nggak well prepare pagi itu. Jam 4 subuh mobil melaju dari halaman rumah karena yaaaaaaa.... Memang kita memutuskan berangkat pagi buta.
Aku ingat betul saat papa meminta ijin untuk kuliah lagi. Sebuah berawal dari penolakanku karena ada prioritas yang harus kami selesaikan. Terkadang memang rasa mengalah sebagai istri harus diadu ketika menghadapi ego dan kemauan dia. Lantas diikuti dengan kalimat satire di depan sejawatnya sehingga akupun untuk menjaga harga diriku tak lagi melarang dia. Saat itu PERSETAN DENGAN PRIORITAS.
Toh sekeras apapun aku mengarahkan "nanti dulu deh" tetap saja tidak di dengar. Ya sama kayak presiden kalian. Tapi pada akhirnya dalam berumahtangga akan selalu "ya udahlah... Mau gimana lagi?"
Dan kuhadapi dunia barumu.... Akupun ikut andil dalam kesibukanmu...
Mungkin aku memang butuh validasi dari dia bahwasanya keberhasilan dia selama dua tahun belakangan ini juga tidak lepas dari peranku. Yang ikut mengamankan anak-anak saat zoom. Yang rela jadi sasaran dia senewen karena aku benci dia sibuk di depan laptop dan berlanjut di grup wa.
No.. Aku tidak cemburu dengan teman-teman barunya. Hanya aku tidak suka jika aku bukan menjadi prioritasnya. Apapun itu dan dia mengakui juga menyadari itu.
Tapi lagi... Pada akhirnya ya udahlah....
Kuliah daring, luring, bimbingan dan segala macamnya. Duit yang mengalir deras. Yang sering aku protes kenapa harus meminta dari uangku. Bukan tidak mau membantu hanya saja sudah terlalu banyak juga aku membantu.
Sekali lagi... Pada akhirnya... Ya udahlah...
Semua sudah berlalu juga tinggal kita berupaya kembali menegakkan tiang ekonomi karena bukan hanya dia yang ingin berkembang. Akupun juga. Bahkan aku memendam impianku untuk bersekolah lagi semenjak sebulan pasca wisuda S1 dan diminta untuk segera menikah. Edan sih memang tuntutan bapak.
Pada akhirnya...
Ada tawa bahagia di balik toganya
Ada senyuman haru saat namanya dipaanggil oleh MC.
Ada yang sibuk merekam momen meski dari videotron saat rektor memindahkan tali toganya.
Hari itu, bukan hanya dia yang bisa melewatinya. Namun akupun juga bisa melewatinya. Dengan air mata, dengan bibir cemberut, dengan senewen sepanjang hari. Juga Intan, Mutiara dan Berlian yang dipaksa mengerti keadaan papa yang sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Juga orang tua dan saudara yang memang kami repotkan dalam berbagai hal.
Terimakasih untuk perjuangannya. Tanpa sibuk membuktikan untuk orang lain, bagiku papa sudah menjadi pribadi yang lebih hebat dari versi sebelumnya. Tetaplah rendah hati, tetaplah sabar menaiki setiap tangga kariernya, tetap prioritaskan kami. Dan jadilah semakin bertanggung jawab terutama bagi keluarga terlebih dahulu. Dan semesta akan menyelaraskannya.
Akhirnya... Kita bisa melewati ini kan, pa?!?

.png)



1 comments
Aaaah... lega ya akhirnya terlewati perjuangannya. Selamat ya... Semoga ilmunya bermanfaat. Aamiin
ReplyDeleteSilahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)