Perjalanan Gigi Impaksi : Sakitnya Ya Tuhaaaaaaaannnn!!!!!
Rasanya memang masih terbantu dengan bius, tetapi aku merasakan gusiku yang ditekan sebegitu kuat mengakibatkan bius kayak nggak ada gunanya. Tangan gemetar dan pegang gelas untuk kumurpun terasa nggak berdaya. Dan akupun memang merasakan ini tuh beneran sakit.
Di tengah kesakitan pasca eksekusi bedah mulut, dokter menjelaskan prosedur lanjutan di tanggal 18 Juni 2026 nanti. Papa yang menyimak tapi aku tetap fokus merintih kesakitan. Dan bawaannya tuh pengen marah karena badan keringetan ga tau dingin atau gimana, nyut-nyutan semakin berasa, gigit kasa dengan aroma betadine bikin aku mual mana bercampur darah juga, kan. Ya udah sambil nunggu obat aku memilih melanjutkan rintihan kesakitanku dan menangis.
Dan makin emosinya papa tuh justru memintaku ke radiologi untuk menyerahkan hasil panoramic. Lha gunduleeeee!!! Ora ngrasake lara po piye, trus apa gunanya elu ikut kalau enggak elu yg ambil tugas wara-wiri to ndeng!!! 😒
Dahlah aku semakin menangis dan dia akhirnya beranjak dari kursi tunggu di depan ruang farmasi. Di sini juga antriannya banyak sekaleeeeeeee 😌😌 sambil haduh... haduh... Aku mencoba tetap ramah kepada ibu-ibu di sebelahku. Manaa diajak ngobrol pula. 😭😭😭😭
Tetap Saja Kamu Akan Bertemu dengan Orang yang "Menamparmu"!
Ibu-ibu yang mengajakku ngobrol sebelumnya sudah mendapatkan obatnya. Mengantri dari jam 11 dan baru selesai menjalani pemeriksaan hingga mendapatkan obat di jam setengah lima. LUAR BIASA MEMANG YAAAAAA!! Ini BPJS kan juga bayar tiap bulan kan ya, apa pemerintah nggak ada niatan buat memperbaiki pelayanan kesehatannya gitu. Oh engga dink kan fokus di MBG. #ups
Aku masih tetap saja duduk di kursi itu sambil mengelu-elus pipi. Mengusap air mata dan memastikan kassa yang aku gigit masih aman untuk membantu menghentikan pendarahan pasca bedah mulut. Kondisi badan juga nggak karuan pokoknya, moodku juga amburadul gitu kan.
Nah datanglah tuh ibu-ibu stylenya casual tomboy gitu. Beliau duduk di sampingku dan menyapaku. Aku balas dengan senyuman meski dengan kondisi kaku gitu senyumnya.
"Sudah lama antri, mbak? Mbaknya sakit apa?" Tanya beliau.
Aku tunjukin kartu antrian pengambilan obat. Dan aku tunjukin rahang kananku.
"Maaf bu... Sakit kalau dibuat ngomong!" Tegasku ke si ibu.
Kalian tahu apa yang ibu itu katakan?
"Semangat mbak. Pasti sembuh dan bisa sembuh! Pokoknya harus semangat. Yang sedang dirasain dirasain dulu aja!"
Kemudian si ibu menceritakan awal mula kondisi beliau yang saat ini masih menjalani pengobatan stroke.
"Dulu tanganku kiri belum bisa begini. Tapi ini sudah banyak perubahannya, mbak. Aku juga marah dulu pas sakit. Tapi aku sabar, aku terima, aku berusaha untuk sehat dan rutin berobat. Dan aku yakin sama dokter dan nggak ganti-ganti dokter. Nyatanya ini lihat tanganku, mbak!" Sambil menunjukkan tangan kirinya yang menggenggam meski belum sempurna.
"Mbak yang sabar yaaa. Sakitnya sebentar itu. Gapapa nangisss biar lega, itu pasti sakit. Tapi semangat, sabar, pasti nanti bisa sembuh!" Pesan si ibu sampai akhirnya aku pamit karena sudah mendapatkan obatnya.
Kemudian aku menuju ke lift... Menangis di parkiran motor dan menahan tubuh supaya tidak oleng. Dan merengek untuk beli nescafe dingin. Yaaa... Dokter pesan dan aku suka "minum harus dingin yaaa tapi tunggu satu jam dulu!" . Tapi ada yang tidak aku suka "makan yang lembut dulu teksturnya dan jangan makan yang panas-panas dulu!"
Baiqlah... Nescafe sudah kugenggam dan kusruput terlebih dahulu. Dan sepanjang perjalanan naik motor, cup nescafe yang dingin itu aku tempelkan di pipi untuk mengurangi nyeri karena bius terasa sudah habis. Huhuhuhu. Dan gimana rasanya??? SAKIT BAAAANGGGEEETTTT YA TUHAAAAAN!!! 😭😭😭😭


.png)



0 comments
Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)