Setelah sebelumnya saya pernah mengulas tentang serba serbi pelajaran SBK, saya punya cerita lagi nih. Menggambar, mewarnai, menyanyi bahkan menari rela mereka tunggu tiap minggu. Ya, pelajaran seni budaya dan ketrampilan bisa menjadi ajang hahahihi bagi mereka *baca anak-anak. Kali ini saya mengajak anak-anak untuk membuat seekor ulat yang lucu. Biasanya kalau melihat seekor ulat akan merasa jijik, termasuk saya akan sangat histeris lihat ulat. Tapi kalau ulat ini beda loh, yuk siapin bahan-bahannya dulu. Kalau sudah siap bilang sama bu guru ya...
PANGUDARASA SEPALA
anggitanipun: Kusdijanto, S.Pd
Ya gene kahanan saikiAkeh wong – wong kang ora peduliMarang kawujudan sabenereYa apa klakon, bangsa kang mandiri iki dadi ringkih?Ora, aku kudu wani!Babagan kang tumuju marang kamulyanAyo – ayo – ayo kanca!Gumregah ndepani kemajuan ikiAku lan sliramu dadi pangarepMugo bisa mujudake gegayuhaning bangsa
*********
Ini hasil karya bapak yang rencananya akan saya tampilkan di perpisahan anak-anak kelas 6. Dengan mengangkat kebudayaan daerah (Jawa) semoga generasi muda sadar akan pentingnya melestarikan budaya yang bisa menjadi aset berharga bangsa. Kalau bukan KITA....siapa lagi?
Yuk mari, kita bersama - sama NGURI URI KABUDAYAN JAWI :)
Salam
Pernah ndak sih kita mengucapkan maaf sekalipun tidak
melakukan kesalahan?
Seberapa sering kita meminta tolong dengan teman,
orang tua, atau orang lain?
Seberapa sering pula kita mengucapkan terimakasih
meskipun hanya dalam hal kecil?
Saya sedang belajar 3 hal ini. Terdengar sangat
sederhana tapi maknanya sungguh luar biasa. Dan saya menyebutnya tiga kata
ajaib. Dan ajaibnya juga kata-kata sederhana ini bisa merubah sesuatu yang bisa
dikatakan susah menjadi gampang (menurut saya).
Dan tiga kata ajaib itu mungkin sudah tidak asing lagi
bagi teman-teman, diantaranya :
- Maaf
Mungkin orang akan mengucapkan maaf
jika telah melakukan kesalahan atau mengucapkan maaf kalau saat lebaran. Tapi
saat dicoba misalnya dalam kondisi di kelas jika anak-anak sedang gaduh, saya bilang ke
anak-anak “maaf ya anak-anak, ini pelajaran. Kalau anak-anak ramai nanti kakak
kelas kalian akan terganggu.” Bisa dikatakan sebuah teguran namun cenderung
lebih halus. Dan anak-anak bisa dengan mudah menerima itu. Sederhana bukan?
- Tolong
Sering kita lupa kalau kita
menyuruh orang itu dengan kata-kata yang langsung to the point. Misalnya “eh, ambilin bukuku donk di meja.” Atau sebelum
saya mengenal satu diantara kata ajaib ini saya dengan leluasa berkata “diam anak-anak, perhatikan pelajarannya!!”
dan yang terjadi malah kacau suasana kelasnya. Kemudian perkataan itu saya
rubah “ anak-anak, ibu guru boleh minta tolong tidak? Kalau anak-anak ramai
nanti pelajarannya gak bisa diterima,lho.” atau “Nak Tama, tolong ibu bacakan
halaman 59 buku paket bahasa indonesianya.” Terdengar lebih enak bukan?
- Terimakasih
“Kalau dikasih hadiah orang
bilang nya apa dik? makacih ya”. Sering
saya menjumpai anak-anak kecil yang masih imut mengatakan kata “makacih” nya
itu. Pernah saya menyuruh seorang murid saya dan setelah itu saya mengucapkan
terimakasih kepadanya. Dia bertanya “kenapa ibu selalu bilang terimakasih kalau
habis minta tolong saya?” pertanyaan yang luar biasa menurut saya. Sayapun menjawab
“itu sebuah penghargaan kepada kamu nak, karena sudah mau menolong ibu.” Sekecil
apapun perbuatan itu saya berusaha menekankan untuk selalu mengucapkan
terimakasih. Misalnya dipinjami pensil, menjadi “guru” saat belajar dengan
model tutor teman sebaya, atau hal apapun kata terimakasih tidak boleh lupa
diucapkan. Dari kata itu kita bisa mengajarkan menghargai orang lain bukan?
Mungkin 3 kata ajaib ini
masih dalam tahapan belajar dan menerapkan. Jika kita cermati, globalisasi yang
sedang terjadi saat ini menggerus beberapa hal yang dulu sangat kental dengan rakyat
kita. Kesopanan, sekarang ini menjadi sedikit langka dimata saya. Pandangan saya
melihat sekarang ini anak-anak cenderung cuek dan kurang menghargai. Kalau kita
ingin berubah, Negara kita bisa bangkit siapa lagi kalau bukan diajarkan kepada
anak-anak kita?
3 kata ajaib itu bagi saya
sederhana, namun ketika kita menerapkannya satu hal yang awalnya dirasa sepele
bisa berubah menjadi menyenangkan. Kita bisa belajar menjadi seorang pemilah
kata yang baik, belajar mengatakan sesuatu dari hati ke hati dan penuh
kelembutan,dan tentunya sebuah rasa sopan dalam berkata bisa kita pelajari dari
3 kata ajaib ini.
Saya rasa ini bukan hal baru
bagi teman-teman, tapi mungkin kita kurang menerapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Mungkin sudah berusaha menerapkan salah satu diantaranya atau
bahkan sudah ada yang biasa menerapkan ketiganya? Luar biasa bukan.. Mari kita
bangkitkan Negeri kita dengan kesopanan yang sudah mulai luntur dengan 3 kata
ajaib itu.
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp
Anak-anak
itu lucu. Mereka unik dengan karakter yang berbeda-beda. So, terlalu jahat
kalau kita sebagai pengajar “memaksa” mereka untuk duduk bersedakep dan biasa
dikenal dengan istilah anteng itu. Sejujurnya kelas saya itu bisa dibilang
kelas yang selalu ramai. Ramainya bukan dalam arti anak-anak berguling-guling
kesana kemari, tetapi ramai dalam arti mereka menyelami karakter masing-masing.
Oke kita bahas soal karakter belajar anak. Sebenarnya ini masih dalam tahapan
belajar saya, tetapi tidak ada salahnya kalau saya share dengan rekan blogger,
kan?
- Saya menemukan seorang anak bernama Farida, dia cantik dan cenderung centil dengan temannya. Senang bergaul dan banyak teman juga. Saat belajar dia sedikit pemalu dan sulit berkonsentrasi jika anak-anak lainnya berisik. Atau ada sesuatu yang baru dilihat, maka ia akan terus memperhatikan sesuatu itu. Kalau saya menerangkan materi dengan gambar dia selalu memperhatikan, tetapi jika hanya dengan ceramah dia pasti enggan untuk memperhatikan. Kalau menurut pendapat saya, Farida ini tergolong sebagai anak yang memiliki karakter belajar Visual (melihat).
- Kemudian saya memiliki seorang murid yang bernama Dani, Tama, dan Bagus. Dia anaknya periang, suka ngoceh dan bercerita, pandai dalam bergaul dan diap pemberani. Dani ini anak yang tergolong suka sekali dengan metode bercerita. Mereka lebih antusias jika saya memberikan sedikit dongeng saat pelajaran. Dan yang saya temukan terhadap si Dani, dia tetep cool mengerjakan tugas sekalipun anak disampingnya sedikit berisik (dalam artian berisik membaca soal dengan suara keras). Dan akalu disuruh membaca nyaring pasti ada 1 atau 2 suku kata yang kelewatan. Sedikit saya bisa menyimpulkan Dani, Tama, dan Bagus tergolong anak tipe Auditory (mendengar).
- Si usil Dimas, anak ini selalu menghampiri meja guru setiap saya membawa sebuah alat peraga yang belum pernah dilihatnya. Pasti diraba dan diperhatikan dengan seksama benda “baru” itu. Ketika ada demonstrasi di depan kelas, Dimas yang selalu ingin mempraktekannya. Cenderung usil dan tidak bisa diam, selalu ingin mencontohkan apa yang dia lihat, dan akang mengantuk saat saya mendongeng, dapat disimpulkan jika Dimas memiliki karakter belajar Kinestetik.
Ini
sedikit pengalaman saya, jika tebakan saya ini salah saya mohon maaf karena
[lagi] saya katakan masih dalam tahapan belajar memahami karakter belajar anak
dan PR saya adalah bagaimana menangani karakter yang berbeda itu. Ada yang mau
share? Ditunggu komennya yah.. salam guru kecil ^__^
Pelajaran SBK (Seni Budaya dan Ketrampilan) gak melulu gambar. Bagi anak-anak pelajaran yang bisa dijadikan hiburan itu ya SBK sama Olahraga. Sesekali saya coba memberi mereka membuat tugas prakarya. Sangat mudah dan hemat kali ini saya dan anak-anak asyik memanfaatkan botol bekas untuk membuat sebuah prakarya. Cukup dengan balon, sebotol aqua bekas, gunting, dan tali.
Proses pembuatan pun dilakukan. Mereka antusias dalam mengerjakan. Dan penyakit menular anak-anak pun terjadi. banyak diantara mereka yang berteriak "Bu, nggak bisa..."
Setelah selesai, lubangi tutup botol aqua kemudian masukan balon ke dalam botol aqua yang sudah digunting tadi. Kemudian tiuplah sampai membentuk sebuah PUMPKIN a.k.a waloh.
Saking asyiknya ma balon, mereka malah asyik niup dan foto-foto. Hahaha..dasar anak-anak :D
Lucu, mengesankan dan banyak keceriaan kalau bersama mereka. Anak Indonesia yang hebat dan pintar!!
![]() |
| ini alat dan bahan yang diperlukan. Hemat bukan? |
![]() |
| mereka sedang memotong botol aqua bekas |
![]() |
| muka mereka sedang meniup balon. Lucu yah kayak akyu |
![]() |
| Muridq yang Remponk dan narsis. tapi mereka hebat lho :D |
Pendidikan itu bagi saya merupakan hal yang sangat penting. Kenapa? karena dengan pendidikan kita akan tahu bagaimana "Dunia" itu. Ya, dengan pendidikan kita bisa menjadi orang yang sekiranya dikatakan sukses. Dalam mengenyam dunia pendidikan tentu tak semulus jalanan di ibukota. Penuh liku-liku dan segenap perjuangan demi meraih mimpi. Berpegang pada kata mutiara dari sang maestro Novel Indonesia Andrea Hirata "bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpimu itu". Bisa dikatakan saya memang orang yang suka bermimpi. Tak terlalu tinggi namun dengan adanya mimpi itu, diri saya bisa termotivasi untuk mencari pendidikan samapai kapanpun. Entah itu belajar dari orang lain maupun di lingkungan kampus.
Selama kurang lebih hampir setahun ini, dalam hal pendidikan masih banyak yang harus saya evaluasi. Entah dari mana asalnya banyak sekali hal yang meurut saya unik. Dan dari hal-hal yang sudah saya alami itu, saat ini saya bisa mengatakan "saya memiliki pribadi bahkan sejuta mimpi yang unik". Kenapa begitu? Begini ulasannya...
Awal tahun 2010 saya bersama teman-teman berhasil menyelenggarakan seminar yang bertajuk Stop Kekerasan Dalam Dunia Pendidikan. Ya, kenapa bertemakan seperti itu? karena dalam dunia pendidikan Indonesia sangat diwarnai dengan kekerasan terhadap anak. So, saya dan teman-teman berinisiatif menggelar acara seminar tersebut. Dan nilai plus bagi saya dan teman-teman adalah seminar tersebut dimuat dalam beberapa harian di sekitar kota. Jarang sekali acara PGSD dimuat dalam harian kota. "Sebuah apresiasi yang bagus dan perjuangan yang sangat bagus dari panitia" begitu komentar dari salah satu peserta yang ikut seminar itu. Dari itu saya belajar mengenai bagaimana bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Karena itu merupakan kepanitiaan pertama kali yang saya ikuti.
Kemudian saya melanjutkan aktifitas saya sebagai mahasiswa biasa. Hanya masih menyelesaiakan beberapa laporan. Namun saat itu saya menghadapi kendala bahwa rasa malas selalu menggelayuti saya. Ok.. ini yang dinamakan penyakit pelajar Indonesia. Malas.... lalu bagaimana cara saya untuk tidak malas? Saya meyakinkan diri saya " saya punya mimpi. Berjuta mimpi itu dalam benak saya, lalu bagaimana jika saya malas? haruskan mimpi itu terbuang sia-sia?". Memang bagi orang lain itu aneh, tapi bagi saya itu merupakan ramuan jitu untuk memerangi malas dalam diri saya.
Menjelang tengah semester atau bertepatan dengan tengah tahun saya berkecimpung dalam kegiatan Gebyar Budaya Indonesia. Lumayan sebagai panitia inti. Dengan keterlibatan saya dalam acara itu, saya belajar lagi untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Tak hanya dari suku jawa, tapi ini dari bermacam suku yag ada di Indonesia. Belajar berbagai karakter orang dan tidak semua karakteritu sama. Belajar bagaimana menyelesaikan tanggung jawab sekalipun harus mengirbankan waktu untuk tidak bertemu keluarga di Purwodadi. Ya, pengalaman baru saya dapatkan. Dan ini tentu tak dimiliki oleh sebagian teman-teman saya. Bangga? jelas lah.
Dan akhir semeter ini telah di depan mata. Saya berada pada semester 6. Cukup adikatakan sebagai angkatan tua bagi adik-adik tingkat saya. Dan dalam semester itu pula banyak diantara teman saya yang sering dibelakang saya terbilang menjatuhkan. Entah itu menjelekkan saya, mencari kelemahan saya. Saya masih berpegang teguh pada prisip saya "Hidupku bukan berdasarkan pada omongan orang. Niat saya untuk mencari ilmu. Suka atau tidak saya jika bagi saya itu benar maka akan saya lakukan". Bapaklah yang selalu memberikan wejangan untuk saya. Dan pesan dari ibu selalu saya ingat "biar ibu yang bodho tapi anak ibu harus sekolah sampai sarjana". Kejutan di akhir semester ini adalah Indeks Prestasi saya turun sekitar 0,5. Target awal untuk semester ini adalah 3,6 tapi target itu tidak saya dapatkan.
Apakah saya kecewa? jawabannya adalah YA. Karena saya merasa sudah semaksimal mungkin salam mengerjakan tugas. Bagaimana menyelesaikan tugas dan presentasi. Cukup membuat saya enggan lagi untuk memaksimalkan kuliah ini. Inilah kelemahan saya, sekali target yang saya tetapkan tidak terpenuhi saya pasti "nglokro" kalau orang jawa katakan. Atau istilah mudahnya putus asa. Karena bagi saya, ketika saya pulang ke rumah dengan membawa transkip nilai semester itu adalah sebuah kado kecil untuk orang tua. Pulang dengan membawa nilai setiap semester entah itu baik, cukup, atau mungkin kurang akan memberikan kesan tersendiri bagi orang tua. Dan senangnya ketika sebuah senyuman dan rasa bangga itu menghiasi diri Bapak dan Ibu saya.
Dan saat ini saya menjajaki semester 7 di Universitas Kristen Satya Wacana. Masih sebagai mahasiswa calon guru PGSD yang insyaallah pertengahan semester depan akan menyelesaikan study. Saat ini pula saya tengah melaksanakan kegiatan wajib sebagai bekal ketika terjun dilapangan nanti. PPL ( Program Pengalaman Lapangan) di SD Sidorejo Lor 1 Salatiga. Berangkat dengan ilmu yang pas, penampilan yang pas, nyali yang pas, dan semuanya serba pas. Melihat bagaimana respon murid-murid terhadap mahasiswa menjadikan yang tadinya saya ragu kini semakin bersemangat. Bermain dengan murid, belajar dengan murid, menjadi sahabat ketika diluar kelas. Menjadi seorang ibu ketika di dalam kelas. Menjadi panutan yang sangat mereka banggakan. Sesuai dengan yang dikatakan bapak "anak SD itu justru akan lebih percaya gurunya daripada orang tuanya. Atau gampangnya DEWA nya murid itu ya gurunya".
Dalam menjajaki semester 7 ini, beberapa kali saya mengalami beberapa kendala. Saya dikatakan sebagai penghianat manakala saya berbeda pendapat dengan keputusan teman-teman. Ini negara demokratis, beda pendapat bagi saya hal yang wajar asal kita bisa menempatkan dan bisa untuk menghargai. Ini sempat menjadikan diri saya down, tapi kembali dengan prinsip saya " menjadi BEDA itu bukan suatu masalah besar. Berani menjadi beda itu bagus asal tetap untuk menghargai yang lain". Dan solusinya adalah tetap staycool.
2010 akan segera mengakhiri diari pendidikanku yang penuh dengan mimpi. Selamat datang 2011 dan akan ku buka lembaran baru diari pendidikanku dan cita-citaku. Mengukir rentetan mimpi dalam benakku dan dengan penuh doa, harapan, dan usaha semoga mimpi itu akan segera terwujud di 2011 nanti.
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp.
Selama kurang lebih hampir setahun ini, dalam hal pendidikan masih banyak yang harus saya evaluasi. Entah dari mana asalnya banyak sekali hal yang meurut saya unik. Dan dari hal-hal yang sudah saya alami itu, saat ini saya bisa mengatakan "saya memiliki pribadi bahkan sejuta mimpi yang unik". Kenapa begitu? Begini ulasannya...
Awal tahun 2010 saya bersama teman-teman berhasil menyelenggarakan seminar yang bertajuk Stop Kekerasan Dalam Dunia Pendidikan. Ya, kenapa bertemakan seperti itu? karena dalam dunia pendidikan Indonesia sangat diwarnai dengan kekerasan terhadap anak. So, saya dan teman-teman berinisiatif menggelar acara seminar tersebut. Dan nilai plus bagi saya dan teman-teman adalah seminar tersebut dimuat dalam beberapa harian di sekitar kota. Jarang sekali acara PGSD dimuat dalam harian kota. "Sebuah apresiasi yang bagus dan perjuangan yang sangat bagus dari panitia" begitu komentar dari salah satu peserta yang ikut seminar itu. Dari itu saya belajar mengenai bagaimana bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Karena itu merupakan kepanitiaan pertama kali yang saya ikuti.
Kemudian saya melanjutkan aktifitas saya sebagai mahasiswa biasa. Hanya masih menyelesaiakan beberapa laporan. Namun saat itu saya menghadapi kendala bahwa rasa malas selalu menggelayuti saya. Ok.. ini yang dinamakan penyakit pelajar Indonesia. Malas.... lalu bagaimana cara saya untuk tidak malas? Saya meyakinkan diri saya " saya punya mimpi. Berjuta mimpi itu dalam benak saya, lalu bagaimana jika saya malas? haruskan mimpi itu terbuang sia-sia?". Memang bagi orang lain itu aneh, tapi bagi saya itu merupakan ramuan jitu untuk memerangi malas dalam diri saya.
Menjelang tengah semester atau bertepatan dengan tengah tahun saya berkecimpung dalam kegiatan Gebyar Budaya Indonesia. Lumayan sebagai panitia inti. Dengan keterlibatan saya dalam acara itu, saya belajar lagi untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Tak hanya dari suku jawa, tapi ini dari bermacam suku yag ada di Indonesia. Belajar berbagai karakter orang dan tidak semua karakteritu sama. Belajar bagaimana menyelesaikan tanggung jawab sekalipun harus mengirbankan waktu untuk tidak bertemu keluarga di Purwodadi. Ya, pengalaman baru saya dapatkan. Dan ini tentu tak dimiliki oleh sebagian teman-teman saya. Bangga? jelas lah.
Dan akhir semeter ini telah di depan mata. Saya berada pada semester 6. Cukup adikatakan sebagai angkatan tua bagi adik-adik tingkat saya. Dan dalam semester itu pula banyak diantara teman saya yang sering dibelakang saya terbilang menjatuhkan. Entah itu menjelekkan saya, mencari kelemahan saya. Saya masih berpegang teguh pada prisip saya "Hidupku bukan berdasarkan pada omongan orang. Niat saya untuk mencari ilmu. Suka atau tidak saya jika bagi saya itu benar maka akan saya lakukan". Bapaklah yang selalu memberikan wejangan untuk saya. Dan pesan dari ibu selalu saya ingat "biar ibu yang bodho tapi anak ibu harus sekolah sampai sarjana". Kejutan di akhir semester ini adalah Indeks Prestasi saya turun sekitar 0,5. Target awal untuk semester ini adalah 3,6 tapi target itu tidak saya dapatkan.
Apakah saya kecewa? jawabannya adalah YA. Karena saya merasa sudah semaksimal mungkin salam mengerjakan tugas. Bagaimana menyelesaikan tugas dan presentasi. Cukup membuat saya enggan lagi untuk memaksimalkan kuliah ini. Inilah kelemahan saya, sekali target yang saya tetapkan tidak terpenuhi saya pasti "nglokro" kalau orang jawa katakan. Atau istilah mudahnya putus asa. Karena bagi saya, ketika saya pulang ke rumah dengan membawa transkip nilai semester itu adalah sebuah kado kecil untuk orang tua. Pulang dengan membawa nilai setiap semester entah itu baik, cukup, atau mungkin kurang akan memberikan kesan tersendiri bagi orang tua. Dan senangnya ketika sebuah senyuman dan rasa bangga itu menghiasi diri Bapak dan Ibu saya.
Dan saat ini saya menjajaki semester 7 di Universitas Kristen Satya Wacana. Masih sebagai mahasiswa calon guru PGSD yang insyaallah pertengahan semester depan akan menyelesaikan study. Saat ini pula saya tengah melaksanakan kegiatan wajib sebagai bekal ketika terjun dilapangan nanti. PPL ( Program Pengalaman Lapangan) di SD Sidorejo Lor 1 Salatiga. Berangkat dengan ilmu yang pas, penampilan yang pas, nyali yang pas, dan semuanya serba pas. Melihat bagaimana respon murid-murid terhadap mahasiswa menjadikan yang tadinya saya ragu kini semakin bersemangat. Bermain dengan murid, belajar dengan murid, menjadi sahabat ketika diluar kelas. Menjadi seorang ibu ketika di dalam kelas. Menjadi panutan yang sangat mereka banggakan. Sesuai dengan yang dikatakan bapak "anak SD itu justru akan lebih percaya gurunya daripada orang tuanya. Atau gampangnya DEWA nya murid itu ya gurunya".
Dalam menjajaki semester 7 ini, beberapa kali saya mengalami beberapa kendala. Saya dikatakan sebagai penghianat manakala saya berbeda pendapat dengan keputusan teman-teman. Ini negara demokratis, beda pendapat bagi saya hal yang wajar asal kita bisa menempatkan dan bisa untuk menghargai. Ini sempat menjadikan diri saya down, tapi kembali dengan prinsip saya " menjadi BEDA itu bukan suatu masalah besar. Berani menjadi beda itu bagus asal tetap untuk menghargai yang lain". Dan solusinya adalah tetap staycool.
*****
Lalu, bagaimana dengan mimpi saya?Mimpi dan harapan di 2011? Masih dengan berjuta mimpi itu. Dimana nantinya jika saya sudah lulus kuliah saya tak ingin hanya sekedar sebagai guru yang digugu dan ditiru murid saja. Memberikan potensi yang baik bagi dunia pendidikan Indonesia itu adalah cita-cita saya. Melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi dan syukur bisa mendapatkan beasiswa luar negri adalah mimpi saya. Dan yang paling penting saat ini saya ingin segera menyelesaikan skripsi dan pulang kerumah dengan mengenakan Toga. Menanti hangatnya pelukan bapak ibu dan dengan lantang saya akan meneriakkan "Bapak, ibu...kulo sampun sarjana sakniki.....matursuwun sanget kagem pengorbanan, doa, restu bapak ibu". 2010 akan segera mengakhiri diari pendidikanku yang penuh dengan mimpi. Selamat datang 2011 dan akan ku buka lembaran baru diari pendidikanku dan cita-citaku. Mengukir rentetan mimpi dalam benakku dan dengan penuh doa, harapan, dan usaha semoga mimpi itu akan segera terwujud di 2011 nanti.
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp.







.png)


