Sebenarnya saya tidak ingin menuliskan ini. Namun rasanya setiap kali menjelang tahun ajaran baru ada saja perdebatan yang makin kesini makin aja gitu. Dari yang Sistem Penerimaan Murid Baru lah, pemilihan sekolah lah, kado untuk walas yang akan ditinggal naik kelas las. Dan beberapa waktu lalu sempat merasa tergelitik dengan postingan salah seorang blogger juga terkait penyesalannya menyekolahkan anaknya di sekolah negeri.
Oh... Begini Rasanya Mengikuti Bimtek Penulisan Konten Budaya Lokal Bersama Dinaspurda Grobogan!
"Ya... Kalau memang mama ngakunya blogger, bisa lah kepilih jadi peserta bimtek bareng perpusda! Kan dah sering nulis,toh!"
Sedikit ngenyek kalau Bahasa Jawanya. Komentar suami ketika saya melontarkan ijin untuk mendaftar bimtek bersama Dinaspurda Kabupaten Grobogan. Layar laptop sudah menampilkan tampilan google form yang harus saya isi. Namun, saya berhenti di kolom draft tulisan yang akan diikutkan dalam bimtek nantinya. Itulah mengapa saya agak nggremeng sama suami terkait mau nulis apa nantinya. Layak tidak naskahnya terpilih nantinya.
![]() |
| Bersama Pak Asti peserta bimtek lainnya |
Tubektomi apaan sih? Itu istilah medisnya ya, tapi paling gampang orang menyebutnya KB steril gitu lah. Bahkan pertama kali ngabarin mbak kalau aku hamil, beliau langsung bilang "gapapa hamil. Itu rejeki. Dah jelas kan SC lagi nanti sekalian steril. Mbak juga steril, kok! Tiga anak cukup, lah!". Dan akupun masih terdiam saat itu.
Tekan Tombolnya dan Perkalian Jadi Lebih Seru!!!
2 x 3 berapa ?
Intan menjawab "eee.... 8!"
Ulangi! Perintahku yang disusul jarinya menghitung secara berulang dua kalinya tiga.
"Enam, mah!" Dan matanya berbinar.
Lagi, 2 x 6 berapa ?
Lamaaa sekali aku menerima jawaban dari dia seperti papanya dulu menanti jawaban saat mengajakku berpacaran. Halah... Begitu di jawab Intan lhaaa kok salah. Asli deh ya menghafal perkalian itu sulit dan berkali-kali Intan bilang...
"Matematika itu susah yo, mah! Aku nggak suka!!!"
Menjadi Bagian dari Wardah Inspiring Teacher 2024
Miskonsepsi Yang Sering Ditemui dalam Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi
Festival Transformasi Pendidikan di Solo... Ih serunyaaaa!!!!
Sudah kubulatkan tekadku untuk sehari tanpa anak-anak. Mengikuti kegiatan Festival Transformasi Pendidikan di stadion Manahan Solo itupun bersama papa. Sekali lagi, bersama papa. Sebelumnya ketika menerima info terkait kegiatan seminar dan simposiumnya, aku diskusikan dengan papa dan ternyata gayung bersambut. "Ikut gakpapa, ma. Nanti anak-anak biar sama ibuk Eni dulu di Ngembak!" Ya sudah, kutepis kegalauan untuk meninggalkan Intan, Mutiara dan Berli, dan mantap untuk berangkat ke Solo pagi itu.
![]() |
| Depan sendiri, yaksip! |









.png)


