Perjalanan Gigi Impaksi : Eksekusi Bedah Mulut

By Chela Ribut Firmawati - June 06, 2026

"Wes to.. Lara kui mengko!! Ora kayak dicokot semut!! Luwih lara.. Yaaa kayak dicokot singo ngono kui lah!". Pengakuan Bunda Dyah Sul yang sebelumnya sudah melakukan tindakan bedah mulut karena impaksi gigi. Kembali aku menanyakan gimana rasanya dan jawaban dia tetap sama. Sementara dua jam lagi aku berencana ke Yakkum untuk daftar ulang pendaftaran dan tindakan bedah mulut sesuai dengan antrian BPJS. 




Sengaja mengulur waktu karena nyaliku ciut. Meski ditemani papa yang siap sedia di sampingku, tapi tetap saja berhadapan dengan jarum suntik, bius, suara alat medis membuatku berkeringat dingin. Mengantri di pendaftatan juga lumayan lama hingga separoh lebih judul buku yang kubawa berhasil aku lahap juga siang itu. 


Sampai akhirnya.... 


Antrian pendaftaran ulang selesai, menuju ke lantai dua dan poli bedah mulut, harus antri lagi hampir sejam setengah. Kemudian ada adegan dimana aku akhirnya menuruti cacing di perut dengan sepotong roti Bahagia agar aku tetap bahagia. Tapi entah mengapa kembalian uang dari beli roti Bahagia itu tidak papa temukan di dompetnya. 


Yaa... Anggap aja sedekah kalau memang lima puluh ribu itu terjatuh. 😊. 


Dengan sangat sabaaaaaaaarrrrrr sebagai pasien BPJS aku menanti pelayanan kesehatan ini. Pasien nomor 52, nama demi nama dipanggil. Durasi tindakan bahkan ada yang empat puluh lima menit. Dalam hati istiqfar tapi mulutku berkata "sssooooowwwweeeeeeennnnneeeeee ya allah gustiiiiiiii!". Sambil terus menunjukkan bahasa tubuh antara gelisah, takut, tapi aku ingin mengakhiri pertarunganku dengan gigi impaksi ini. Agar kedepan aku bisa resmi bergabung menjadi geng iyup. 



"Ibu Chela Ribut Firmawati....!" Oke baik pasien memanggilku. Kututup buku yang sedang kubaca, ku kirimkan voice note ke papa yang katanya mau nyebat dulu. Lalu kubuka pintu poli itu. Ruangan yang adem, gagang pintu bagus, tapi aku kalau nggak karena terpaksa juga mending di rumah aja. Huhuhuhu. 


Dokter cantik menyapaku sembari aku berikan hasil panoramic yang sudah kulakukan seminggu sebelumnya. "Gimana bu, siap ya. Kita tindakan hari ini ya!". Tanya dr. Puji dengan ramah dengan tatapan matanya cantiknya. Dan kutahu beliau dipanggil "Cik" oleh perawat yang membantunya di poli. 


"Nanti tidak sakit kok. Akan kita bor juga nanti giginya. Tenang saja ada anestesi. Kalau kiranya sakit bisa angkat tangan kiri. Rileks saja ya, bu!"


"Buka mulutnya aaaaaaa..... Nah segini yaaa. Lidahnya rileks saja. Anestesinya saya suntikkan dulu. Maaf ya buk... Sakit sedikit ya buk.... Rileks yuk jangan tiba-tiba gerak yaaa...." 


Iyaa halussss kok dokternya tapi jujur hatiku misuh-misuh.. "Rileks matamu!" aku lemah dengan jarum suntik, dok! Aku takut, dok!!!!!! 🥲🥲🥲🥲😱😱😱😱😱😱😱😱😵‍💫😵‍💫😵‍💫🥴🥴🥴🥴


Kemudian dokter kembali ke mejanya sementara aku ditinggal aja gitu di kursi pesakitan. "Udah ya?" tanyaku agak jumawa... Wkwkwkwk. Eh si mas perawat bilang "biusnya yang sudah, bu!" Weeeewwww. Sementara dari tempat duduknya dr. Puji nanyain "lidahnya sudah kebas belum, bu? Kalau sudah kita mulai ya!" 


Eksekusi Dimulai! 

"Rileks ya..."

"Mulutnya dibuka segini!" 

"Section..!"

Kemudian entah apa itu yang ditusuk ke gusiku sambil bunyi "cetik... Cetik!"

Sebenarnya dari pantulan kaca pelindung mata yang dipakai cik dokter juga kelihatan. Tapi rasa sakit mengalahkan logikaku untuk melawan sakit itu. Yaaa... Aku nggak bisa lagi pura-pura kuat di kursi pesakitan itu meski sebelumnya aku masih bisa petentang-petenteng dan nyengir ke papa. 

"Maaf yaaa sakit yaaa...."

Gilaa sih.. Ini sakit puuuooolllll!!!! Aku sampe nangis apalagi saat berusaha mengeluarkan akar giginya. Biuspun ditambah karena level sakitku tuh ya ampun rasanyaa ini tuh sakitnya sakit banget. Bisa bayangin ngga??? 

"Dikit lagi bu...!" Sambil terus menekan rahangku dan mencongkel gusiku. Kalian bayangin ketika akan mencabut paku yang harus dicongkel dulu pakunya. Kiranya seperti itu lah. 

Air mataku menetes.. Badan dingin gemeteran. Sumpah ya allah.... Kalau bukan karena ingin sehat aku ya nggak mau begini! Dan ketika akar berhasil dicabut ternyata masih ada tahapan lagi yaitu DIJAHIT. Iya... DIJAHIT!! benangnya warna item dan nggak pake anestesi lagi. Tapi tetep aja berasa. Wkwkwkwkwk. 

"Dua lagi ya habis itu selesai!"  katanya dengan sangat enteng.... 

Tapi aku..... Sudah lemas... Sakit... Nangis... Entahlah semua terasa SAKIT!!!!!! 


Menahan sakiiitt dan bius perlahan hilang



  • Share:

You Might Also Like

1 comments

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)