Gerobag bakso itu berwarna biru. Mangkal di depan rumah orang, dekat dengan lokasi orang sedang punya hajat. Motor grand astrea 96 diparkir ibu di dekat gerobag bakso itu. Dan aroma baksonya semerbak sekali.
Setelah menuntaskan ritual ikut ibu njagong, aku kembali membawakan tembor yang isinya sudah berganti dengan berkatan itu. Sebelum ibu menyentuh motornya, aku menarik baju ibu dan merajuk... "Buk... Tumbaske glondongan bakso!"
Ibu merogoh uang di saku celananya. Dikeluarkannya dua lembar seribuan kala itu untuk ditukarkan dengan sejumlah baksonya. Untuk membeli semangkuk bakso kala itu memang butuh banyak sekali pertimbangan. Apalagi uang dari bapak susah diminta. Sehingga aku meyakini uang yang dikeluarkan ibu itu adalah hasil dari jasa menjahitnya.
Seplastik bakso tanpa mie dan kuah. Tanpa saus dan sambal. Hanya baksonya saja. Dengan aroma daging yang sangat menggugah selera. Kuhitung dan ada 8 butir. Kugigit sedikit demi sedikit dan sesekali ibu minta satu gigitan untuk mencoba. Kuemut gigitan bakso itu supaya lebih lama sensasi lezatnya di mulut. Aaah... Ini bakso terenak!! Kala itu.
Bakso Full of Love
Sore kemarin aku memanfaatkan kelebihan energi dalam tubuhku untuk memblender daging kurban. Ya... Blender. Yang baru kubeli di shopee, nekataku gunakan untuk memblender secuil daging untuk kubuat bakso rumahan.
Perjuangan menggiling daging dengan blender memang tak semulus menggunakan chopper. Itulah mengapa aku sempat senewen dan akan meminta untuk dibelikan chopper di toko oren juga. Demi kelangsungan dapur rumah tangga.
Lantas mengapa bakso? Adalah salah satu cara anak-anakku mau makan daging. Tidak dalam bentuk daging yang terlihat seratnya. Tapi makanan olahan daging yang minim campuran dan bahan berbahaya. Tak seenak bakso kanzler atau bakso Mbah Gito. Tapi percayalah bakso buatan mama chela ini ketika disantap anak-anak pasti mereka akan berteriak "masakan mama enak sekali!!!"
Bakso... Yang dulunya adalah makanan mahal dan spesial bagiku. Sekarang, keluar dikit belinya bakso. Laper dikit pengennya bakso. Temen ultah beli bakso, cipratan sertifikasi yang cair belinya bakso. Semudah itu sekarang makan bakso. Dengan porsi lengkap yang tidak hanya nempil gelondongan baksonya saja.
Apa mungkin ini ya perasaan seorang ibu. Yang mengutamakan anaknya untuk bisa makan enak. Yang rela merogoh kantong lebih dalam agar anak bisa makan dari makanan yanh dijamin ya bersihnya, ya lezatnya, ya gizinya. Itulah mengapa ku tak suka MBG karena mengacaukan feeding rule anak-anakku.
Resep bakso menul ala Mama Chela
Bahan :
Potongan daging sapi (dari kurban). Aku ga nimbang berapa daging yang kupakai 😌
bawang merah dan putih goreng sesuai selera
1 butir telur ambil putihnya saja
Saos tiram, garam, lada, kecap asin, kaldu bubuk sesuai selera aja.
Es batu
Tepung tapioka 4 sendok makan.
Untuk proses pembuatan. Giling dulu dagingnya dengan semua bahan termasuk es batu. Jika sudah masukan tepung tapioka. Giling sampai halus, pindahkan ke baskom untuk dibentuk bulat. Panaskan air di panci, jika sudah mendidih matikan api kemudian bulatkan adonan bakso. Nyalakan api kecil saja dan tunggu bakso sampai mengambang. Dan masukan bakso yang sudah matang itu di panci yang berisi air dingin dan es batu. Sudah deh.. Bakso menul sudah jadi dan tinggal bikin kuah baksonya.
Serempong ini ternyata, tapi demi anak-anakku, rempong tak jadi masalah selagi mereka makan bakso buatan mama.



.png)



0 comments
Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)