Semenjak tidak lagi ada budhe di rumah, aku kembali sibuk dengan dapur sepulang sekolah. Asal badan tidak capek, masakan sederhana siap dihidangkan di meja. Cuma selama ada MBG ini memang membuat kacau feeding rule di keluargaku ini. Terutama Intan dan Mutiara. Ah sudahlah... Ngomong soal MBG bisa-bisa musnah.
Kembali ke dapur. Kenapa dapur? Karena disinilah aku bisa menuangkan rasa. Aku sadar bahwa aku bukan koki yang handal di rumah ini. Aku juga sering mendelegasikan tugas dapur ini ke budhe. Aku juga sering hanya menyiapkan nasi sementara sayur dan lauk memilih untuk beli di warung. Bahkan pada akhirnya aku membeli semangkuk mie ayam sementara sayur lodeh dan ikan kembung tersaji di meja.
Namun ketika tangan kecil di rumah ini mengacungkan jempol, matanya berbinar dan bilang "mama ini enak banget!!!" Ada kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa dibeli meskipun emas antam yang ditawarkan. Can you imagine that?
Kenapa dapur? Karena dapur kecil ini adalah impianku meskipun masih banyak kurangnya. Aku ingin dapur yang bersih, kompor sederhana dan peralatan masak yang jauh lebih fungsional daripada sekedar nurutin estetika konten-konten. Dengan kompor merk rinai yang menjadi kompor pertama yang kami beli karena kompor hadiah pernikahan sudah rusak. Dengan panci kecil yang baru kubeli juga karena panci warisan ibu sudah bolong. Dan dengan gas melon bertuliskan "untuk masyarakat miskin" yang notabene dipakai semua kalangan. 🤣 juga beberapa biji piring dan mangok tupperware yang cicilannya sudah lunas. Dapur impian sudah kumiliki yang dulu masih kuupayakan dalam doa. Bilang apa aku? Alhamdulillah.
Kenapa dapur? Karena dapur menjadi tempatku menuangkan rasa ke masakan. Tempatku memainkan rasa dalam menuangkan bumbu ke masakan. Tempatku menyajikan sayur supaya lebih menarik dan anak-anakku lahap menyantapnya tanpa drama. Tempatku berhenti karena suasana hati yang buruk membuatku gagal menciptakan sambal terasi yang enak. Tempatku ditanya seribu kali dari mulut kecilnya "Mama.. Sudah matang telur godognya?". Atau rengekan manja si bontot " Maaa... Maem!". Semua rasa ada di situ.
Kenapa dapur? Karena dapur adalah realita paling menampar di kehidupan rumah tangga. Selembar 50 ribu harus bisa menjadi gas, telur, bawang baik dan jahat. Sebuah tamparan realita bahw harga sembako terus naik dan pemerintah malah gila-gilaan impor beras. Sebuah realita dimana keluhan ibu-ibu pedagang sayur dan juga pembeli melontarkan bahwa duit di era saat ini ORA ONO AJINE BABAR BLAS. Dan realita menyenangkan bahwa kebaikan hati tetangga bisa berwujud segenggam dong telo, satu buah pepaya muda, satu biji terong ungu tinggal petik.
Kenapa dapur? Karena menjadi tempat dimana aku memberi ruang kepada anak-anakku untuk ikut menciptakan rasa di masakan. Mereka belajar memproses bahan mentah hingga menjadi makanan siap disantap. Mereka berebut membalurkan tepung sajiku sementara sepiring tepung panir masih nganggur dan chicken katsu menjadi 2 jam lebih lama disajikan karena tangan mungil itu ikut sibuk di dapur. Kebersamaan, bercanda, saling memuji masakan mama dan "mama aku mau katsunya lagi!" Atau "mama nugget ayam buatan mama enak!!!". Ah... Nyesss rasanya.
Kenapa dapur? Karena bisa menjadi tempat saling nggedabrus oleh suami istri ini. Yang mungkin harus menutupi masakannya lebih asin atau yang pas dan cocok di lidah. Yang menjadi tempat dimana gosip tetangga kembali direcap setelah mendapatkan kabar itu di penjual belanja atau es teh mbah yayuk. Juga menjadi arena debat karena ya begitulah dinamika pernikahan. Nggak ada debat nggak greget aja.
Yaa.. Memang harus aku akui dapur yang jauh dari estetika instagram ini memang menjadi sudut rumah yang menenangkan. Aku dapat benar-benar menjadi diriku sendiri tanpa harus khawatir dengan penilaian orang. Lu suka ya dimakan kalau tidak suka aku kasih ke entok dan ayam. Tegas dan nggak usah bertele-tele.
Tapi... Bisa nggak sih setelah masak tau-tau piring, panci, wajan dan lain-lain bisa otomatis bersih tanpa princess sibuk cuci piring yang sehari bisa 5 kali? Ndak suka akutu!!

.png)



0 comments
Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)